Salam,
Apa yang Anda bayangkan jika terbaca kata raksasa ?
Bentuk badan yang besar diikuti dengan kemampuan fisik yang sangat luar biasa.
Dengan kemampuan yang dimiliki tersebut, sangat tidak masuk akal jika masih memerlukan pihak/kelompok lain untuk melakukan hal yang diinginkan/dicapai.
Ternyata trend manajemen sekarang sudah berubah total. Para raksasa menyadari bahwa kerjasama sangat diperlukan demi mencapai tujuan bersama. Demi kepentingan bersama, trend untuk secara frontal berhadapan bisa diubah dengan mencari celah-celah yang memungkinkan bekerjasama demi kepentingan bersama pula.
Selama ini ada paradigma bahwa makin besar suatu kelompok maka makin maruk kelompok tersebut (bertumbuh menjadi konglomerasi). Artinya, semua mau dibuat, dikelola dan diproduksi sendiri.
Ternyata hal itu tidak terjadi pada peristiwa kali ini.
Berbekal undangan dari Microsoft Indonesia, berangkatlah saya bersama-sama rekan wartawan IT ke Universitas Pelita Harapan (UPH) di Lippo Karawaci. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2000, di Kampus UPH tersebut merupakan Press Conference dari pihak terkait di bawah ini.
Pada tanggal 27 Januari 2000 yang lalu, UPH secara resmi telah menandatangani Microsoft Campus Agreement (CA).
Dengan demikian (menurut Press Release dari MS), UPH menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang melisensi piranti lunaknya melalui program CA. Bukan itu saja, sebagai AATP (Autorhized Training Program) (ini "A" yang satu dalam AATP, buat apa yha ? Red.), UPH memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk juga mengambil program sertifikasi yang dikeluarkan oleh Microsoft sehingga mahasiswa nantinya setelah lulus dari UPH tidak saja menyandang gelar dan mendapatkan ijazah jenjangnya, tetapi juga mendapatkan sertifikasi penguasaan Teknologi Microsoft yang mendapatkan pengakuan luas dari dunia bisnis international.
Acara tersebut dihadiri pelbagai pihak antara lain :
Universitas Pelita Harapan :
Rektor, Johannes Oentoro
Dekan Fakultas Teknik Industri, Lim Yow Sin
dll.
Metropollar / Lippo e-Net :
Deputy Chairman, Jonathan Parapak
Vice President, Warsito Hans Tanudjaja
dll.
Microsoft Indonesia :
President Director, Richard Kartawijaya
Cynthia Iskandar, Tina Kardjono, Sumarpung Halim
Seperti yang disebutkan di atas, kepentingan masing-masing misalnya : penyelenggaraan Campus Digital dari UPH (dengan dibantu PT Multipolar Corporation), dan pemasyarakatkan produk Microsoft yang legal, ternyata bisa diramu sedemikian rupa sehingga bisa menguntungkan semua pihak, termasuk mahasiswa-mahasiswi UPH.
(konsep pemasaran yang patut ditiru bukannya dihujat,
kata orang, sirik tanda tak mampu, Red.).
Pihak UPH bisa memanfaatkan operating system yang saat ini dipakai pada sebagian besar kantor di Indonesia menjadi sistem operasi yang bisa digunakan secara legal dalam kampus. Dengan diajarkannya OS ini, diharapkan mahasiswa UPH yang lulus nantinya bisa langsung menggunakan piranti lunak tersebut. Dilain pihak Microsoft bisa mengedukasi masyarakat Indonesia untuk menghargai lisensi.
Dengan adanya kerjasama ini, pihak komunitas UPH bisa memanfaatkan produk MS secara legal dan harga terjangkau (bagi masyarakat Indonesia khususnya).
Jika sering mengikuti tulisan saya di pelbagai milis, terutama Mailing List Management Indonesia, maka terbukti bahwa kita (khususnya mahasiswa), bisa turut berlegal ria tanpa harus membeli produk yang mahal.
Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak membeli produk lisensinya M$ (dulu saya pernah menulis hal ini dengan mengatakan bahwa kita dikibulin oleh pihak luar karena mereka bisa membeli dengan harga murah, produk yang sama, tetapi kita di sini dipaksa membeli dengan harga mahal).
Salut untuk Pak Presdir MS Indonesia yang telah memperjuangkan hal ini agar bisa terlaksana di luar Amerika.
Moga-moga hal ini bisa merembet juga ke luar kampus.
Nggak enak khan bangsa kita dituduh bangsa pembajak.
(Tetapi sebaliknya kita juga harus pintar-pintar donk. Mereka bisa membeli dengan harga murah, masa' kita disuruh membayar dengan harga yang mahal, Red.)
Acara diakhiri dengan tour keliling Kampus UPH.
Sayang karena waktu yang tidak mengijinkan, kami hanya diajak keliling ke lantai satu saja (Laboratorium Teknik Industri).
Jika saya boleh jujur, masih kurang adanya sentuhan kemanusian pada jalan-jalan yang saya lalui di lantai satu kampus UPH tersebut.
Seandainya gang-gang tersebut dihiasi pelbagai lukisan / kembang (seperti jalan/gang yang hendak ke lantai 2), tentunya lebih nyaman bagi para mahasiswa yang hendak kuliah termasuk juga bagi para dosen dan tamu UPH.
Jika alasan, bahwa kampus di LN pun begitu, itu berarti kita sudah terperangkap dalam paradigma bahwa di LN begitu maka di Indonesia pun begitu. Kenapa harus kita ikuti paradigma tersebut ?
Buatlah sesuatu yang lain yang merombak paradigma yang ada.
OK ? (pesan saya buat semua pihak yang membaca tulisan ini).
Saya menunggu gebrakan merombak semua paradigma yang ada.
Biasakanlah berpikir bagai anak kecil tanpa dibatasi oleh kemungkinan yang tercipta berdasarkan pengalaman kita.